Thursday, 28 July 2016

Selamat Datang Mahasiswa Baru: Kuliahlah, Lalu Kerja, Lalu Menikah, Lalu Tua, Lalu Mati



Mahasiswa Baru, DOK. Sholihah.web.id

Oleh:
Aab Elkarimi*


Selamat datang mahasiswa baru! Kalian yang dulu lugu kini telah masuk dalam sebuah perangkap institusi yang banyak dikatakan orang akan mendewasakanmu. Meskipun ada banyak yang saya tidak setuju, tapi anggaplah benar apa yang dikatakan banyak orang itu.


Proses pendewasaan yang digadang-gadang menjadi bahasan sakral, diglorifikasi hingga sampai pada bahasan agen of change, social control, iron stock, blah.. blah... akan terdengar nyaring saat Ospek digelar. Hinggalah menjadi wajar manakala teriakan "Hidup Mahasiswa!" menggema dan mampat di udara pada minggu-minggu awal yang melelahkan.


Sambutan Rektor dan Presma menjadi nuansa baru yang akan mengokohkan anggapan banyak orang tentang dunia kampus di kepalamu. Anggaplah semua itu benar adanya. Tidak apa-apa untuk sekarang.


Namun sesungguhnya saya ingin membocorkan sebuah rahasia besar setelah diawal saya ucapkan "Selamat Datang Mahasiswa Baru". Bahwa makna sebenarnya yang akan dihadapi di depan adalah makna dalam yang tidak sederhana. Dampratan 140 SKS, cobaan indeks prestasi, rentetan jadwal dan tugas kuliah, antre untuk asistensi dosen, jadwal hunting bareng teman baru, alibi sibuk menjadi aktivis sempalan, hingga karena aktivitas padat yang dibuat-buat itu kau akan lupa pembicaraan hakikat eksistensimu hidup. Lalu semua ini akan pula membantingmu pada hakikat menjadi seorang muslim yang hampir-hampir dianggap tak penting.


Untuk apa hidup? Jika jawabanmu amat datar: kuliah untuk bekerja, bekerja untuk mencari penghidupan, lalu menikah, lalu tua, lalu mati, sungguh pernyataan ini sangat bercanda sekali. Anggaplah kita berada dalam kotak kasta yang banyak dikata sebagai intelektual, tapi rasa-rasanya gelar intelektual dalam memetakan tujuan hidup jika bercanda seperti itu seolah tak ada beda antara kamu, kita, mereka. dan (maaf) tukang becak. Pun jika jawabanmu bahwa hidup adalah untuk ibadah agaknya jika tanpa penjabaran jawaban itu hanyalah jadi kalimat pelarian saja.


Saya tak ingin banyak menulis kali ini, Saya akan mengutip salah satu penggalan di buku saya tentang gambaran umum dunia kampus saat ini.



"...dunia kampus, tempat dimana mahasiswa saat ini menimba ilmu dan mengadukan masa depan, juga tak kalah membuat kita payah. Desain kurikulum yang padat dan materialis, dengan jatah waktu yang semakin dipercepat, ditambah dengan situasi zaman yang hanya menawarkan persaingan, membuat dunia kampus berputar secepat-cepatnya menyamakan frekuensi dengan berputarnya peradaban global. Mahasiswa didamprat oleh 140 SKS lebih, tenggat waktu kuliah dimampatkan, dunia kampus bergerak dan bergegas menyamakan langkah bersaing. Untuk memenuhinya, digelarlah lomba-lomba keilmiahan, seminar internasional, pelatihan kewirausahaan, unit-unit kegiatan professional, dan dalam galaksi yang berputar-putar ini tatkala kita bicara tentang derita dunia dan kebangkitan Islam menjadi terkesan remeh, bercanda, bahkan tak penting. Latar seperti inilah yang membuat pertanyaan besar semakin menggelinding dan menghajar. Bagaimana bisa kita menerima saat semua orang yakin dan berharap penuh pada mahasiswa sebagai generasi muda Islam cendekia terus dipegang teguh, namun secara bersamaan ada tendensi halus berupa ketidaksepakatan dan pengabaian mahasiswa Islam terhadap peran ini?. Demikianlah realitas ini terus berjalan tanpa jawaban, dan dunia kampus semakin bersinar dengan persaingan, sesak dengan para professional, dan terus memproduksi jutaan lulusan yang disebut-sebutnya kompeten."


Lalu perkenankan pula saya kutip tentang realitas besar, keberadaan mahasiswa dan nasib dunia Islam,


"Pada saat kita mengkaji secara mendalam eksistensi mahasiswa kini, setiap aktivitas yang dilakukan, beragam kegiatan keorganisasian yang dijalankan, dan milyaran kata yang menjadi bahan perbincangan, sama sekali tak ada keterkaitannya dengan kebangkitan Islam. Padahal jika kita meninjau dunia hari ini, bencana besar berupa keterpurukan kaum muslimin di segala lini sudah sepatutnya kita ratapi. Cobalah simak penuturan Hasan Ali Nadwi akan hakikat keterpurukan umat Islam dan bagaimana seharusnya kita bersikap:



“Andai umat manusia memahami hakikat prahara yang terjadi, andai umat manusia bisa memperkirakan kadar kerugian yang dialami, ketika mereka mampu melepaskan diri dari belenggu fanatisme, niscaya mereka akan memperingati saat berwalnya kemunduran Islam, sebagai hari berkabung, mereka akan saling berucap salam dukacita, dunia akan mengenakan busana hitam tanda kematian.”


Peninjauan yang mendalam terkait kondisi mahasiswa dan dunia kampus saat ini sudah diambang batas yang kita prediksi, sampai-sampai tokoh sekaliber Mahfud MD cemas dan berkata: “semuanya sudah seperti mesin!”. Mesin-mesin yang dikendalikan oleh peradaban kapitalis yang despotik ini berputar terus hingga menciptakan sebuah galaksi yang akan menyedot generasi muda lain yang polosan. Dari sinilah sangat penting hadirnya gerakan yang mampu menginstall ulang mahasiswa dan mempersiapkan kondisi dimana mereka saling berpeganga tangan untuk melawan keterpurukan, tidak rela dirinya didominasi oleh pemikiran kufur, dan secara ikhlas peduli dan berjuang untuk urusan umat Islam."


Saya tidak menginginkan apapun dari ditulisanya tulisan yang sedikit panjang ini. Tapi rasanya alangkah baik untuk kedepan jika kita mulai memetakan di awal bahwa hidup bukan sekedar hidup. Jika hidup hanya untuk bekerja, bukankah kerbau di sawah juga bekerja? begitulah nasihat kondang dari buya Hamka.


Jadi, selamat datang mahasiswa baru! Kuliahlah, lalu kerja, lalu menikah, lalu tua, lalu mati, lalu kau mau bawa apa?[]






*Penulis adalah pemimpin redaksi Sholihah.web.id, Aktivis GEMA Pembebasan Jawa-Tengah, Penulis buku "Saatnya Mahasiswa BerKhilafah!"

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Selamat Datang Mahasiswa Baru: Kuliahlah, Lalu Kerja, Lalu Menikah, Lalu Tua, Lalu Mati

0 comments:

Post a Comment